sepuluh tips menjadi pendengar yang baik

By romansa_klaten, 8 Januari 2017

Salah satu penyebab utama umat nabi Nuh Alaihissalam dihancurkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah sikap mereka yang tidak mau mendengar wahyu dari Sang Pencipta. Mereka menutupi rapt-rapat indra pendengaran, bahkan menyombongkan diri.

Allah Ta’ala berfirman :
Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka(kepada iman)agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukan anak jari mereka kedalam telinganya dan menutupi bajunya(kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (Nuh[71]:7)

Hal yang sama dilakukan juga oleh orang-orang Quraisy ketika berinterakasi dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala  dalam al-qur’an surat Fushshilat [41] ayat 26.
lalu bagaimana Rasulullah SAW menyikapi hal ini ?

Rasulullah pendengar yang baik
Rasulullah SAW justru menjadi pendengar yang baik. Sejarah mencatat beliaulah pendengar terbaik yang pernah ada dimuka bumi. inilah yang membuat kita bangga menjadi umat beliau.

Ketika Rasulullah SAW mulai melebarkan jangkauan dakwah dengan berdakwah secara terang-terangan, orang orang kafir Quraisy merasa ketakutan. Mereka berupaya membendung laju dakwah beliau dengan segala cara. Salah satunya dengan negosiasi. Maka diutuslah Utbah bin Rabi’ah untuk menemui beliau.

Ketika tiba dan duduk di sebelah Rasulullah SAW, Utbah berkata “Wahai anak pamanku, sesungguhnya engkau mengetahui secara pasti kedudukanmu ditengah-tengah kaummu. Engkau telah memecah belah barisan mereka. Engkau caci maki Tuhan-tuhan mereka. Dan engkau kafirkan nenek moyang mereka. karena itu dengarkah kata-kataku. Aku akan menyampaikan beberapa tawaran, mudah-mudahan engkau mau menerima sebagiannya.”
Rasulullah SAW kemudian berkata, “Wahai Abdul Walid, katakanlah. Aku akan mendengarnya”
Lalu Utbah bin Rabi’ah mengutakan panjang lebar segala tawarannya.
Ketika selesai, Rasulullah SAW kembali bertanya, “sudahkan selesai wahai Abdul Walid?”
Ia pun menjawab, “sudah.”
Rasulullah SAW kemudian berkata, “Sekarang dengarlah kata-kataku.”
Utbah pun menjawab, “silahkan.”
Lalu beliau membacakan beberapa ayat dari surah Fushshilat, sampai pada akhirnya beliau membaca ayat sajadah (ayat 37), yang artinya , “Dan sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah(pula)kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

Setelah itu beliau pun bersujud. kemudian beliau berkata kepada Utbah, “Engkau telah mendengarkannya dan kini silahkan tentukan sikapmu.”
Hati Utbah takluk. Ia segera bangkit  dari tempat duduknya, lalu pergi menjumpai teman-temannya.
Setibanya Utbah di tengah kaumnya, ia segera meminta agar kaumnya memanggil Muhammad SAW dengan sebutan Rasul Allah. Namun kaumnya tetap enggan. Mereka malah berkata, “ia telah menyihirmu dengan ucapannya.”

Kiat Menjadi Pendengar
Kesediaan Rasulullah SAW mendengarkan hingga tuntas pembicaraan orang merupakan cerminan akhlak yang sangat agung. Dengan keagungan itulah beliau sukses menaklukan hati orang.

Lantas bagaimana meneladani akhlak mulia seperti itu?
berikut kiat-kiatnya.

1. Tanamkan kesadaran bahwa mendengarkan adalah pekerjaan mulia dan kunci kesuksesan.
beberapa buktinya adalah sebagai berikut :

  • Nabi Musa Alaihissalam menjadi hamba yang dipilih-Nya meski sejak kecil beliau kurang terampil berbicara. Beliau justru memiliki keterampilan banyak mendengar. Dengan cara itulah Allah Ta’ala memuliakannya
  • Seorang hamba akan memperoleh kabar gembira dan petunjuk karena suka mendengarkan ucapan dan mengikuti yang terbaik. Hal ini diungkap oleh Allah Ta’ala  dalam al-Qur’an surat Az-zumar[39] ayat 18.
  • kualitas kepemimpinan seseorang tidak semata ditentukan oleh aktivitas meriwayatkan (katsratur riwayah) seperti berorasi dan bersilat lidah, tetapi banyak melayani yang dipimpin dan mendengarkan aspirasi bawahannya (katsratur ri’yah wal iqtima’).
  • hati manusia akan berjiwa besar (lapang dada) bila diawali dari membuka mata dan membuka pendengaran.
  • Umar bin Khathab menjadi pemimpin besar karena selalu meminta masukan dari orang-orang yang tidak memiliki jabatan formal. Ia bertanggapan bahwa mereka lebih tulus.
2. Berikan perhatian sepenuhnya kepada lawan bicara.
Ketika ada yang ingin mengajak kita berbicara, berusahalah untuk menjauhkan semua pikiran yang menganggu dalam kepala kita. Fokuskan diri kepada uraian pembicaraannya. Kita tidak mungkin bisa mendengarkannya jika pada saat yang sama kita memikirkan hal lain yang menganggu pikiran kita.
3. Hindari perdebatan yang tidak perlu.
Keadaan ini perlu diperhatikan jika kita sedang berada dalam pembicaraan yang berbeda sudut pandang. jangan memberikan komentar mendadak ketika lawan bicara sedang mengungkapkan pandangannya.
jangan pula ajak dia untuk berdebat, apalagi jika kita ingin mencari siapa pemenang dari perdebatan tersebut. Hal ini hanya akan membuatnya malas berkomunikasi dengan kita. Biasakan memberikan kesempatan  padanya untuk menjelaskan dudukan persoalan sebelum kita berkomentar.
4. Tataplah mata lawan dengan tatapan hormat.
Bagaimana rasanya berbicara dengan orang yang menghindari kontak matanya dengan kita? mungkin akan menyakitkan. Terutama jika kita ingin membicarakan sesuatu yang penting.
karenanya, ketika sedang berbicara, tataplah matanya. Saat kita memandangnya, dia akan merasa nyaman, mau membuka hati dan masalahnya pada kita. jangan berkeliling memandang ruangan atau objek lain.
5. Perhatikan intonasi suara dan bahasa tubuhnya.
Biasanya orang akan menyembunyikan emosinya ketika berbicara dengan kita. Dengan memperhatikan intonasi suara dan bahasa tubuhnya, kita bisa memahami apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Kita pun bisa menjadi semakin tahu abagaimana cara menghadapinya.
6. Berikan respon yang bersahabat.
Respon kecil yang mungkin tampak sepele membuat lawan bicara merasa dihargai. Sekali-kali anda bisa mengangguk, menggelengkan kepala, tersenyum, tertawa kecil, atau memberikan komentar-komentar pendek seperti, “Oh, ya?, Hebat!” dan lain-lain.
7. Jangan alihkan pembicaraan secara tiba-tiba.
Bila kita merasa bosan atau tidak berminat dengan topik pembicaraannya, alihkan dengan perlahan-lahan. Jangan mengubah topik pembicaraan secara tiba-tiba.
8. Belajarlah peka  terhadap motif pembicaraannya.
Mungkin dia sedang mencurahkan isi hatinya tanpa keinginan untuk dinasehati, apalagi disalahkan. Jadi kita cukup berperan sebagai pendengar saja.
Mungkin dia sedang menceritakan pengalaman agar kita memujinya. Jadi, pujilah ia dengan tulus.
9. Ungkapkan dengan santun bila tidak punya waktu banyak untuk mendengarkannya.
Keberanian kita untuk mengkomunikasikan kondisi kita sejak awal akan membuat lawan bicara mengukur pembicaraannya. Tapi jika kita tidak mengungkapkannya sejak awal, sementara kita tidak bisa berlama-lama karena ada kepentingan lain, lalu kita putuskan pembicaraan, ia pun akan merasa kecewa kepada kita.
10. Belajarlah mendengar dengan sabar dan tulus.
Semua kiat diatas tidak akan membuat kita menjadi pendengar yang baik bila kita tidak melakukannya dengan sabar dan tulus. Kita tidak akan menjadi pendengar yang baik bila terbiasa berpura-pura menjadi pendengar yang baik
Wallahu a’am bish-shawab.
 
 
 
Sumber : Suara Hidayatullah edisi 6|oktober 2011/Dzulqa’dah 1432
Please follow and like us:

What do you think?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow dan like akun kami